Februari 11, 2015

Harga

Ada suatu saat dimana aku benar-benar terpuruk. Sekarang, memang mudah menceritakannya, tak seperti dahulu. Dulu, aku hancur bak pasir diterpa tsunami. Dulu, aku terlalu lunak, bak lumut terinjak kaki. Hingga suatu saat aku sadar, hidup yang singkat ini tak layak dihabiskan untuk terpuruk. 

Aku menempa diriku sendiri setengah mati. Membuat diriku menjadi senjata yang melawan ego tuannya sendiri. Membuat diriku sakit dengan berbagai petualangan hidup. Membuatku merasakan: sakit hati tak sesakit ini. 

Sekarang, aku bisa berdiri menancap kokoh pada Bumi. Bisa menegakkan kepala untuk menghadapi dunia. Menjadi pribadi yang tak tertembus, hingga melarang siapapun menyakitinya. Hati ini terlalu berharga untuk diciderai.

Tapi menurutku ini baik. Baik sekali. Kalau tak begini, aku tak sekuat ini. Aku mungkin masih lunak. Mudah saja hancur terinjak. 

Januari 27, 2015

Makrab di Pantai Jungwok

Akhirnya posting juga setelah sekian lama. Hehehe, I’ve been busy these days. Hampir semua orang yang dekat sama aku harus diurusin. Bukan, ini bukan sok sibuk. :))

Sebenarnya banyak banget cerita yang ingin aku bagikan di sini. Tapi karena waktu nggak cukup dan karena masih banyak kerjaan, maka aku putuskan untuk cerita tentang pengalaman yang nggak akan aku lupakan ketika makrab bareng teman-teman sekelas di kuliah. Pusing, kan? Ini hampir lulus, tapi baru makrab sekarang. HOW AWESOME!

Makrab kali ini, adalah makrab paling murah, tapi paling berkesan dan terkesan ekslusif! Bagaimana tidak, pembayaran yang hanya Rp 50 ribu rupiah dikembalikan dengan banyak hal yang harusnya bernilai lebih mahal dari nominal yang kami bayarkan. Entah bagaimana ceritanya, makrab dengan biaya seminimal itu kami bisa mendapatkan dokumentasi kelas (lumayan) atas. DJI Phantom Vision 2+, GoPro Hero 3+, serta dua Canon 60D menemani kami sepanjang makrab. So, kepuasan kami bernarsis ria terbayarkan sudah.

***

Dua minggu lalu, kami makrab di Pantai Jungwok, yang mana berada di Kabupaten Gunungkidul paling selatan dan timur, yang artinya hampir dekat perbatasan antara DI Yogyakarta dan Kabupaten Wonogiri! Sedikit informasi, akses jalan ke Pantai Jungwok ini hanya melalui jalan setapak yang teksturnya sangat tidak rata. Jadi, kendaraan harus diparkirkan di tempat parkir khusus, lalu untuk ke pantai, kami harus berjalan kaki sekitar 30-45 menit. Itupun kalau cuaca bersahabat. Lumayan melelahkan.

Hal menyebalkan dan mengganggu perjalanan kami adalah cuaca yang sangat buruk. Buruk sekali. Jalanan berbatu dan berlumpur menghiasi perjalanan kami ke sana. Ada yang terpeleset, ada yang terkilir karena terlalu banyak membawa barang, dan bahkan ada yang membayangkan perjalanan ke arah pantai bagaikan naik gunung. Oke, yang terakhir itu aku.

Ketika berjalan ke arah pantai, kami terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama beranggotakan lebih dari dua puluh orang, jadi tak perlu khawatir. Yang bermasalah adalah kelompok kedua. Kami hanya bertujuh, dan membawa barang yang cukup banyak. Saking buruknya cuaca, alhasil, perjalanan kami tidak tenang setelah ada tiga orang terpeleset dan satu orang terkilir.

Akhirnya, setelah berjalan lebih dari satu jam, akhirnya kami sampai di Pantai Jungwok. Perjalanan kami terbayarkan dengan pemandangan yang kami dapatkan.



Pantai Jungwok diambil dari atas, menggunakan drone.


Selepas sampai di pantai, ternyata teman-teman kami sudah mulai  mendirikan tenda. Sedangkan matahari sudah hampir terbenam. Itu sekitar pukul 5 sore. Dengan cepat, kami yang baru saja tiba langsung menanggalkan jas hujan dan meletakkan tas di tempat aman, dan SELFIE! Ini benar-benar pembalasan setelah sekian lama berjalan tanpa tahu ujungnya. Hahaha.

Ceria!

Selepas tenda berdiri, hingga malam kami terus bercerita banyak tentang pengalaman pribadi masing-masing sambil tergelak. Sebenarnya kami menunggu makanan yang sorenya telah kami pesan. Sembari menunggu, aku dan beberapa temanku ingin melihat keindahan bintang sambil mengabadikannya. Aku memang sudah biasa memotret bintang hingga larut malam. Jadi sudah biasa melihat bintang jatuh. Lucunya, teman-temanku ini sontak histeris ketika melihat ada bintang jatuh. Ada bintang jatuh yang sangat besar jatuh, sontak mereka berteriak kegirangan,, dan diakhiri dengan tawa kami. Menyenangkan!


Kumpulan bintang yang menemani kami di malam hari.


***


Esok harinya, kami memang sedikit terburu-buru ketika pulang dikarenakan tenda yang kami sewa harus dikembalikan pukul 12 siang. Nah, sebelum kembali, kami melakukan ritual selfie yang kami laksanakan dengan khusyuk. Selfie kali ini amat sangat berkelas, karena menggunakan DJI Phantom Vision 2+. Sepertinya itu namanya. :|

1… 2… 3… Cheers!


Sekelompok orang yang baru pertama kali selfie pakai drone.


Sebelum merubuhkan tenda, Ichsan memutuskan untuk memotret tenda kami dan kelompok kecil kami dari kejauhan. Pantai ini benar-benar serasa milik sendiri! Lihat saja, hanya ada tenda-tenda dan kami sekelompok. Yah, meskipun ada beberapa orang lain, tapi tetap saja, pantai ini terasa begitu sepi dan asri!



Jungwok from the sky.


Finally, this is the last paragraph in this post. Semoga kedepannya aku bisa semakin rajin untuk update blog ini, ya. Soalnya barusan buka blog ini sekilas banyak sarang laba-laba. Ah, thanks for reading, guys! Postingan juga aku peruntukkan untuk #KuisMemorableAbankIrenk, so, makasih banyak Abank Irenk atas event-nya! Aku doakan makin berjaya ya di tahun ke-11 ini!

This is my memorable moment. What’s yours? Share dong di kolom komentar!



November 13, 2014

Tuan Muda

Dahulu kala, ada Tuan Muda
Ia tua, sebenarnya
Tapi tetap saja, disebut muda

Konon, ayahnya dulu adalah raja
Kakeknya, raja tinggi nan mulia
Kekuasaannya tak terbatas cakrawala

Huh, Tuan Muda
Duda, katanya
Istrinya mati termakan duka

Setiap malam, frustasi ia
Berharap menjadi raja,
Tapi adiknya yang justru bekuasa

Hei,
Cerita tentangnya bukan desas-desus
Dan tak hilang seiring angin berhembus
Meskipun kini, kisahnya berakhir di dalam kardus

Tuan Muda,
Tua, namun disebut muda
Huh, tak pantas sebenarnya

Tuan muda, 
Kejam ia, katanya
Bukan raja, namun sok berkuasa

Nah, sekilas begitu cerita tentang tuan muda
Seakan berkuasa, hanya karena mendiang ayahnya raja


Agustus 28, 2014

Love and Time

I hate talking about love-time with you
The love we had,
doesn't deserve any pressure
It deserved more smile

I hate talking about love-time with you
So, how could many love discussed everyday?
Tomorrow it falls

I hate talking about love-time with you
Many people confused, not about love
It's about feeling insecurity

Let's talk about us, not about our love-time

Our love deserved happiness, not pressure


RZ

Agustus 21, 2014

Overrated College

Ini tulisanku tahun lalu masalah keluhan. Sampai sekarang belum ada realisasi. Hehehehe.


Kalimat pertama yang ingin saya sampaikan di awal tulisan saya ini: Jangan pernah mudah mempercayai perkataan lembaga/orang yang menyatakan bahwa mereka 'terbaik'. Alasannya sederhana; masalah terbaik atau tidak, adalah perihal pengakuan. Dan tentunya, pengakuan datang dari berbagai perpektif. Bukan hanya dari satu sudut pandang saja.

Hari ini, saya kembali dikecewakan oleh kampus dimana saya sedang belajar sekarang. Alasannya klasik: server down karena pengisian KRS. Awalnya saya tersenyum mendapati problem ini kembali muncul. Lucu saja, dan mungkin memprihatinkan. Setiap tahun, problem yang sama kembali mencuat. Aspirasi para mahasiswa yang 'dizolimi' tiap tahun terlontar, kritik bertebaran, dan masih banyak lagi sumber kekecewaan yang tersebar. Tapi aplikasi dari 'Dalam proses perbaikan' yang muncul ketika server down seperti ini, nihil. Bukankah dalam hal ini tak pantas jika lembaga mendeklamasikan 'proses lebih penting'?! Kami butuh hasil.

Sejenak saja, lupakan dulu rencana pergantian status menjadi Universitas bila problem klasik seperti ini masih muncul dan mengudara. Percuma. Bukankah ketika lebih banyak lagi mahasiswa yang datang, problema ini akan semakin menjadi-jadi?

Saya sebagai mahasiswa yang merasa dizolimi hari ini amat sangat merasa tak nyaman. Saya tak tahu kepada siapa lagi saya harus bertanya. Ketika saya bertanya kepada staf BAAK saya selalu mendapatkan jawaban yang sepertinya pasrah: sabar. Saya hanya tersenyum. Tersenyum lelah tentunya. Tujuh jam menunggu server kembali normal cukup untuk membuat saya lelah.

Terima kasih.

Agustus 16, 2014

Bandung is Awesome!

Lemme talk about a city: Bandung. This city is unique. So unique. 

Keunikan Bandung itu banyak! Ada beberapa hal yang memang susah ditemukan di kota lain. Contoh kecilnya; angkot. Nggak salah kalau orang menyebut Bandung dengan 'Kota Seribu Angkot'. Bahkan, sekilas, penyebab kemacetan utama Bandung, ya angkotnya. Meskipun kita nggak bisa menyalahkan angkot sebagai sumber kemacetan; angkot termasuk angkutan umum. Di lain sisi, memang banyak jalan yang ditutup, mungkin karena ada perbaikan. 

Oh, ya, masih berbicara soal angkot. Sangat unik. Sebuah angkot nggak akan berangkat sebelum angkot itu benar-benar penuh. So, jangan memaksakan naik angkot kalau dikejar waktu. Mungkin memang target angkot adalah banyaknya penumpang, bukan berapa jam perjalanan. Mungkin.

Hal lain yang unik dari Bandung, banyak orang Bandung yang menyebut daerah di timur Jawa Barat sebagai 'jawa'. Padahal Bandung juga termasuk bagian dari Pulau Jawa itu sendiri. Unik, ya.

Nah, hal lain dari uniknya kota Bandung: taman kota di sini sangat banyak! Menurutku, kalau ini diterapkan di Jogja, tingkat kebahagiaan orang Jogja yang pada dasarnya sudah tinggi, akan berlipat ganda. Ada Taman Lansia, Taman Jomblo (kursinya satu-satu, HAHAHAHAHA, sorry.), Taman Fotografi, Taman Pustaka Bunga, dan ada beberapa taman lagi. Semuanya keren! Pak Ridwan Kamil benar-benar mengembalikan 'Berhiber'-nya Bandung. Salut, Pak. 

Tapi sayang, daerah di sekitar Bandung kurang tersentuh oleh Pemkab Jawa Barat. Hasilnya, jalan di luar Bandung kurang terawat. Sayang, ya. :(

Bandung itu kotanya anak muda! Di sini, para anak muda diberi kebebasan berekspresi tanpa merasa terganggu oleh orang sekitarnya. Ini keren banget. Nggak jarang aku lihat anak muda Bandung yang memakai pakaian apapun yang merepresentasikan jati diri mereka tanpa perlu merasa mengganggu, dan terganggu oleh sekitarnya. Ignorance is good, at it's level.

Karena aku pergi sendiri ke sini, jadinya aku punya lebih banyak waktu untuk mengamati orang-orang. Ada fenomena keren yang aku temui: orang-orang Bandung sedikit yang merupakan gadget-freak. Fenomena ini berbalik dengan keadaan di Jogja yang mana kita bisa delivery tukang becak via BBM, atau Twitter. 

Fenomena ini, membuat komunikasi antar manusia di sini makin asyik dan seru. Selama satu hari lalu, jarang aku lihat orang yang duduk berdua tapi mata mereka mengarah ke handphone. Jarang. Seriously, in this gadget era, these people are extremely cool!

Satu saranku kalau kalian ingin mengunjungi Bandung, dan ingin menikmati jalanannya: keluarlah setelah pukul 9 malam. Bandung akan terlihat lebih indah pukul 9 malam ke atas, seperti halnya Jogja. Tapi yang spesial dan unik dari Bandung, persimpangan jalan yang biasa dilalui orang-orang disulap menjadi sangat indah. Maybe it just look like an ordinary street belong to people here, but not to me. It's extra-ordinary!

Cewek-cewek Bandung, pada umumnya gemar bersolek. Nggak jarang aku lihat seorang teteh yang berhenti di pinggir jalan untuk bersisir, and people here ignore her. So, these things are usual, right?! Unique.. so unique. Oh iya, kita akan mudah menemukan anak-anak SMP yang sudah lebih lihai dandan daripada anak kuliahan di Jogja. Ehehehe. :|

Dari temanku aku tau, bahwa ternyata, Pak Ridwan Kamil menerapkan jam malam (hingga pukul 1 dini hari) untuk semua tempat, termasuk klub malam. Ini unik, tapi pasti mengundang pro dan kontra. Tapi kalau menurutku, ini baik, lho. Jadi semua tempat bisa terkontrol dengan baik, yang mana berdampak pada menurunnya tingkat kriminalitas. IMHO tho. 

Oh iya, terakhir: ternyata nggak cuma dedek-dedek di sini yang lucu, ibu-ibu mudanya juga. *digebuk* ~~~ᕕ( ᐛ )ᕗ 

So, Bandung, right now, is gorgeous! Aku nggak akan melewatkan kesempatan untuk ke sini lagi ketika ada waktu dan biaya. Thank you, Bandung, your awesomeness impressed me

Oh iya, untuk Teh Agyasaziya, happy wedding, Teh! Be happy with your new life. See ya again!

Juli 25, 2014

Visiting Childhood

Dulu, aku dan kedua orang tuaku, tinggal di Selokan Mataram, Karangjati, Sinduadi, Sleman. Di sini adalah tempat di mana kedua orang tuaku mengontrak rumah kedua kalinya untuk membangun keluarga kecilnya. Umurku kala itu satu tahun.

Ibuku sering bercerita Ryan kecil seringkali disuapi di pinggir selokan sore hari. Kala itu, memang belum banyak kendaraan di Jogja, tidak seperti hari ini, ketika aku berkunjung ke tempat ini: jalan sudah diperluas, banyak kendaraan lalu lalang, dan selokan di sini pun tak lagi bersih.

Tentu saja banyak hal di masa kecil kita yang seringkali menjadi cerita lucu saat kita beranjak dewasa. Termasuk cerita rumah kecil di pinggir selokan ini.

Cerita-cerita itu selalu lucu. Selalu. 

Hari ini, aku datang lagi ke tempat ini. Waktu merubah segalanya, termasuk merubahku.

Hello, childhood.